Makalah Keperawatan Gerontik: Konsep Dasar Lansia

Artikel terkait : Makalah Keperawatan Gerontik: Konsep Dasar Lansia

TINJAUAN TEORI

 

A.    Konsep Lansia

1.    Definisi Lansia

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas yang menjadi sebuah tahap dari pertumbuhan dan perkembangan manusia, dimulai setelah manusia tersebut selesai dari tahapan-tahapan (bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa) sehingga membentuk sebuah proses selama hidup (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Kelompok yang dikategorikan lansia akan mengalami suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Setiap manusia ketika memasuki tahap lanjut usia maka akan mengalami berbagai perubahan akibat proses menua.  Perubahan tersebut yaitu mengalami penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan adaptasi dari stres lingkungan, serta gagalnya individu dalam mempertahankan keseimbangan dari kondisi psikologis yang berhubungan dengan penurunan kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).

2.    Klasifikasi Lansia

Menurut World Health Organitation (WHO) lansia dapat diklasifikasikan menjadi 3, meliputi :

                         a.        Elderly : 60-74 tahun

                         b.        Old : 75-89 tahun ‘

                         c.        Very Old : >90 tahun

 

Sedangkan menurut Depkes RI (2003), lansia diklasifikasikan dalam  kategori, meliputi:

                         a.        Pralansia (prasenilis) : 45-59 tahun

                         b.        Lansia : ≥ 60 tahun

                         c.        Lansia resiko tinggi : ≥ 60 tahun dengan masalah kesehatan atau ≥ 70 tahun

                        d.        Lansia potensial : lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa

                         e.        Lansia tidak potensial : lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain

3.    Karakteristik Lansia

Karakteristik yang terdapat pada individu yang dapat dikatakan lansia adalah berusia 60 tahun atau lebih, mengalami berbagai masalah kesehatan, dan kebutuhan hidup sehari-hari meningkat seperti kebutuhan dan permasalahan yang beragam dari rentang sehat-sakit, kebutuhan bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual, serta kondisi adaptif hingga maladaptif. Karakteristik lainnya yaitu, lingkungan tempat tinggal lansia beragam, mengalami berbagai penyakit, berubahnya tanda dan gejala penyakit, tidak dapat melakukan aktivitas secara maksimal, dan berkurangnya daya indera yang dimiliki lansia akan mempengaruhi nafsu makan lansia (Dewi, 2014).

4.    Tipe Lansia

Menurut Nugroho (2000) banyak ditemukan berbagai macam tipe yang menonjol pada lansia saat ini yaitu:

a.         Tipe Arif Bijaksana

       Tipe yang dimiliki oleh lansia yaitu dengan memaknai hidupnya dengan kekayaan hikmah terhadap setiap pengalaman, sehingga dapat menyesuaikan dirinya terhadap perubahan.

b.        Tipe Mandiri

       Tipe yang dimiliki oleh lansia yang dapat mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan serta teman, dan menghadari undangan acara.

c.         Tipe Tidak Puas

       Tipe yang dimiliki oleh lansia yang selalu mengalami konflik lahir batin sehingga menimbulkan menentang proses penuaan. Lansia akan kehilangan daya tarik, kecantikan, kekuasaan, teman, status. Tipe ini mudah marah, sulit diberi masukan, tidak sabar, dan mudah tersinggung.

d.        Tipe Pasrah

       Tipe yang dimiliki oleh lansia yang selalu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan ibadah, dan mau melakukan kegiatan apa saja.

e.         Tipe Bingung

       Tipe ini dimiliki oleh lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh, marah atau frustasi, dan putus asa.

Selain itu, lansia juga dapat dikelompokan dalam beberapa tipe yang bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonominya, (Dewi, 2014) yaitu:

                              a.       Tipe Optimis

       Tipe ini ditandai pada lanjut usai yang periang, memiliki penyesuaian cukup baik, dapat memandang masa lansia dalam bentuk bebas dari tanggung jawab dan sebagai kesempatan untuk menuruti kebutuhan pasifnya.

                              b.       Tipe Konstruktif

       Tipe ini ditandai pada lansia yang mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidup, mempunyai toleransi yang tinggi, humoristik, fleksibel, dan tahu diri.

                              c.       Tipe Ketergantungan

       Tipe ini ditandai pada lansia yang masih dapat diterima di tengah masyarakat tetapi, selalu pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis.

                             d.       Tipe Defensif

       Tipe ini ditandai pada lansia yang biasanya mempunyai riwayat pekerjaan atau jabatan yang tidak stabil, bersifat selalu menolak bantuan, emosi sering tidak terkontrol, memegang teguh kebiasaan, bersifat kompulsif aktif, takut menghadapi masa tua.

                              e.       Tipe Militan dan Serius

       Tipe ini ditandai pada lansia yang tidak mudah menyerah, serius, senang berjuang, dan bisa menjadi panutan.

f.       Tipe Pemarah Frustasi

       Tipe ini ditandai pada lansia yang pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, selalu menyalahkan orang lain, penyesuaian diri yang buruk. Pada tipe ini lansia sering mengekspresikan kepahitan hidupnya.

g.      Tipe Bermusuhan

       Tipe ini ditandai pada lansia yang selalu menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh, bersifat agresif, dan curiga.

h.      Tipe Putus Asa, Membenci, dan Menyalahkan Diri Sendiri

Tipe ini ditandai pada lansia yang bersifat kritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, mengalami penurunan sosio-ekonomi, tidak dapat menyesuaikan diri. Lansia tidak hanya mengalami kemarahan namun juga depresi, memandang lansia sebagai ketidakbergunaan karena masa yang tidak menarik.

5.    Perubahan dan Masalah pada lansia

Perubahan yang sering dialami lansia adalah dari faktor fisik, psikologis, dan sosial.

a.         Perubahan Fisik

Lansia akan mengalami perubahan sel yang semakin sedikit, yaitu perubahan sistem pernafasan, perubahan kardiovaskuler seperti penurunan kekuatan jantung dan elastisitas arteri. Lansia akan kehilangan gigi dan indera pengecap sehingga terjadi penurunan rasa lapar, peningkatan BAK dan penyakit gagal ginjal sering menyerang pada lansia, penurunan sistem saraf, perubahan muskuloskeletal yang menyebabkan osteoporosis, penurunan sistem metabolisme oleh hati dan ginjal, penurunan penglihatan dan pendengaran, serta perubahan integumen.

Lansia akan mengalami penyesuaian terhadap perubahan fungsional, 85% lansia diatas 65 tahun memiliki satu penyakit kronis dan 50% memiliki dua atau lebih. Perubahan anatomis tersebut dapat mengakibatkan lansia menjadi lebih rentan mengalami gangguan sensorik, imobilitas, sesak nafas, penyakit jantung, hipertensi, diabetes mellitus, stroke, osteoporosis, ketergantungan, dan sebagainya sehingga mempengaruhi psikologisnya dan stres (Miller, 1999).

b.        Perubahan Psikologis dan Sosial

Pensiun adalah ketika individu memasuki usia 56 tahun (Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 155, 2015). Masa ini merupakan masa awal dalam memasuki lanjut usia. Pensiun adalah nilai seseorang yang diukur oleh produktivitas dan identitas yang akan dikaitkan dan diukur dengan peranan dalam pekerjaan. Apabila seseorang pensiun atau purna tugas, maka akan mengalami beberapa hal yang mungkin berarti dalam hidupnya seperti kehilangan finansial, status, teman atau relasi, pekerjaan, ekonomi, dan lain-lain (Khalid Mujadullah, 2012).

Jika pada masa ini individu lemah dan tidak siap dalam menghadapi masa pensiun maka akan terjadi berbagai masalah yang muncul pada lansia. Masalah psikologis adalah masalah yang paling sering dialami oleh lansia. Masalah psikologis yang sering dialami lansia adalah kesepian, keterasingan, perasaan tidak berguna, post power syndrome, kurang percaya diri, short term memory, frustasi, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi, kesepian, dan kecemasan.

 

 

 

Konsep Dasar Lansia


 

6.    Tugas Perkembangan Lansia

Seiring bertambahnya usia, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. Berdasarkan Potter dan Perry (2010), tugas perkembangan lansia ada 7, meliputi:

a.       Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan sehingga lansia harus beradaptasi dengan perubahan fisik yang berhubungan dengan penuaan system tubuh, perubahan fungsi dan penampilan. Hal ini tidak ada hubungannya dengan penyakit, melainkan hal ini adalah normal.

b.      Menyesuaikan terhadap masa pension dan penurunan pendapatan, dimana pada umumnya lansia pensiun dari pekerjaan, oleh karena itu mungkin dibutuhkan penyesuaian dan membuat perubahan karena hilangnya peran bekerja.

c.       Menyesuaikan terhadap kematian pasangan, dimana mayoritas lansia dihadapkan pada kematian pasangannya, teman, dan mungkin juga anaknya. Kehilangan ini akan sulit untuk diterima, apalagi bagi lansia yang menggantungkan hidupnya dari seseorang yang meninggalkannya dan sangat berarti bagi dirinya.

d.      Menerima diri sendiri sebagai individu lansia, dimana beberapa lansia mungkin akan kesulitan untuk menerima diri sendiri selama proses penuaan. Mereka dapat memperlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping dengan menyangkal terjadinya penurunan fungsi, meminta cucunya untuk tidak memanggil mereka “nenek” atau menolak meminta bantuan dalam tugas yang bisa saja mengancam keamanannya.

e.       Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup, dimana lansia dapat mengubah rencana kehidupannya. Misalnya kerusakan penurunan fisik mengharuskannya untuk pindah kerumah yang lebih kecil dan hidup seorangdiri.

f.       Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa, dimana lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan anak-anaknya yang sudah dewasa.

g.      Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup, dimana lansia harus belajar untuk menerima kegiatan dan hobi baru mereka untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Seseorang yang dulunya aktif secara social sepanjang hidupnya mungkin merasa relative mudah untuk bertemu orang baru dan mendapat minat baru. Akan tetapi, seseorang dengan tipe introvert, mungkin menemui kesulitan bertemu orang baru selama pensiun.

Artikel KESEHATAN ONLINE Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 KESEHATAN ONLINE | Design by Bamz