Pengkajian Fokus dan Penatalaksanaan Lansia dengan Dimensia

Artikel terkait : Pengkajian Fokus dan Penatalaksanaan Lansia dengan Dimensia

       Pengkajian Fokus Pada Klien Dengan Gangguan Memori

Untuk mengetahui status mental klien dapat dilakukan menggunakan tabel short portable mental status quesionare (SPMSQ).

Short Portable Mental Status Questionnaire

Pengkajian ini digunakan unuk mendeteksi adanya tingkat kerusakan intelektual. Instrumen SPMSQ terdiri dari 10 pertanyaan tentang orientasi, riwayat pribadi, memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh dan kemampuan matematis. Penilaian dalam pengkajian SPMSQ adalah nilai 1 juka rusak/ salah dan nilai 0 jika tidak rusak / benar

 

Tabel 2.3Short Portable Mental Status Questionnaire (sumber : Kushariyadi, 2010)

Skor

No.

Pertanyaan

Jawaban

+

-

 

 

1

Tanggal berapa hari ini?

 

 

 

2

Hari apa sekarang ini?

 

 

 

3

Apa nama tempat ini?

 

 

 

 

4

Berapa nomor telepon anda? Dimana alamat anda?

(Tanyakan      bila      tidak      memiliki telepon)

 

 

5

Berapa umur anda?

-

 

 

6

Kapan anda lahir?

-

 

 

7

Siapa presiden Indonesia sekarang?

-


8

Siapa presiden sebelumnya?

 

9

Siapa nama kecil Ibu anda?

 

 

10

Kurangi     3     dari     20     dan     tetap

pengurangan 3 dari setiap angka baru, semua secara menurun?

 

-

 

Jumlah kesalahan total

 

 

 

1.

Kesalahan 0 – 2

Fungsi intelektual utuh

2.

Kesalahan 3 – 4

Kerusakan intelektual ringan

3.

Kesalahan 5 – 7

Kerusakan intelektual sedang

4.

Kesalahan 8 – 10

Kerusakan intelektual berat

        
Pengkajian Fokus dan Penatalaksanaan Lansia dengan Dimensia

Penatalaksanaan Dimensia

a.    Salah satu pengobatan farmakologis adalah asetilkolinesterase inhibitor (AchE inhibitor atau penghambat asetilkolinesterase), yang memperbaiki sistem kolinergik kerja otak melalui peningkatan kosentrasi Ach. Telah terbuktikan bahwa pasien demensia mengalami penurunan kosentrasi asetilkolin (Ach) di korteks otak secara progesif. Dibalik kehebatan AchE inhibitor itu, tentunya terdapapat pula kelemahannya. Disamping efek samping yang sering terjadi akibat mengkomsumsi obat (seperti mual, muntah, diare, penurunan berat badan, dan ketidakmampuan menjaga keseimbangan tubunya), AChE inhibitor tidak dapat menghentikan progresivitas (perkembangan) perburukan demensia di tingkat selular. Selain itu, AChE inhibitor tidak mampu memperbaiki degenerasi saraf kolinergik otak, yang terus langsung selama pasien mengalami demensia, sekali lagi, obat ini hanya mampu menghambat disamping meningkatkan perangsangan motorik melalui peningkatan neuro transmitter Ach dalam darah (Tjahyanto & Surilena, 2009).

b.   Terapi non farmakologis

1)      Senam otak

Dari hasil penelitian di dapatkan hasil bahwa senam otak dapat meningkatkan fungs kognitif pada lansia dengan dimensia dengan nilai p value= 0,000. Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi eksperiment pre and post test with control group. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa senam otakberpengaruh terhadap daya ingat pada lansia dengan demensia (Guslinda, 2013)

2)      Intervensi lingkungan

a)      Penyesuaian fisik (bentuk ruangan, warna, alat yang tersedia)

b)      Penyesuaian waktu (membuat jadwal rutin)

c)      Penyesuaian lingkungan malam hari (mandi air hangat, tidur teratur)

d)     Penyesuaian indra (mata, telinga)

e)      Penyesuaian nutrisi (makan makanan dengan gizi seimbang)

3)      Intervensi perilaku

a)      Wandering:

Ø  Yakinkan dimana keberadaan pasien

Ø  Berikan keleluasaan bergerak di dalam dan diluar rumah

Ø  Gelang pengenal “hendaya memory”

b)      Agitasi dan agresifitas

Ø  Hindari situasi yang memprovokasi

Ø  Hindari argumentasi

Ø  Sikap kita tenang dan mantap

c)      Sikap dan pertanyaan yang berulang

Ø  Tenang, dengarkan dengan baik, jawab dengan penuh pergetian

Ø  Bila masih berulang, acuhkan dan usahakan alihkan ke hal yang menarik

d)     Perilaku seksual yang tidak wajar / sesuai

Ø  Tenang dan bimbing pasien ke ruang pribadinya

Ø  Alihkan ke hal yang menarik perhatiaannya

Ø  Bila didapatkan dalam keadaan terlanjang, berilah pakaian atau selimut untuk menutupi badannya. Bantu mengenakan baju kembali

4)      Intervensi psikologis

a)      Psiko terapi individual

b)      Psiko terapi kelompok

c)      Psiko terapi keluarga

5)      Intervensi untuk “ care give “ (pengasuh) diperlukan :

a)      Dukungan mental

b)      Pengembangan kemampuan adaptasi dan peningkatan kemandirian

c)      Kemampuan menerima kenyataan

6)      Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi mudah lupa

a)      Lakukan latihan terus menerus, berulang-ulang

b)      Tingkatkan perhatian

c)      Asosiasikan hal yang diingat dengan hal yang sudah ada dalam otak

7)      Aktivitas keagamaan

8)      Mengembangkan hobi yang ada seperti melukis, memasak, main musik, berkebun, fotografi (Aspiani, 2014).

Artikel KESEHATAN ONLINE Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 KESEHATAN ONLINE | Design by Bamz